hari ini :

GPII Jabar dan Duta Damai Gelar Diskusi Tentang Radikalisme

Sabtu, 09-02-2019 18:44 WIB
GPII Jabar dan Duta Damai Gelar Diskusi Tentang Radikalisme

Bandung-JABARNEWS.ID: Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PW GPII) Jawa Barat dan Duta Damai Jawa Barat sepakat untuk menggelar diskusi tentang radikalisme. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang radikalisme menjadi alasan untuk PW GPII Jabar dan Duta Damai Jabar bekerjasama membuat acara NGOPI (Ngobrol Persoalan Indonesia) dengan tema "Radikalisme di Indonesia dalam Perspektif Hukum dan Politik".

Acara ini dilaksanakan hari Jumat pada tanggal 08 Februari 2019, bertempat di aula Pikiran Rakyat jalan Asia Afrika nomor 77 Kota Bandung. Ridwan Rustandi yang bertindak sebagai moderator menekankan pentingnya pemahaman yang utuh tentang radikalisme, di tengah derasnya arus informasi, orang akan mudah terbawa faham ekstrim jika tidak punya pengetahuan yang menjadi filter diri.

Dirinya pun mempunyai tanggung jawab untuk melakukan kontra radikalisme terutama di dunia maya, karena sebagai koordinator Duta Damai Jawa Barat. "Radikalisme yang menjurus pada terorisme bisa terjadi karena dangkalnya pemahaman terhadap agama atau ideologi. Padahal arti dari radikal sendiri adalah berpikir mendalam atau mengakar."Demikian yang disampaikan Prof. H. Atip Latipulhayat, LLM., Ph.D. Guru besar Hukum Internasional Unpad.

Menurutnya, kini makna radikalisme menjadi negatif karena berlebihan dan keliru dalan memahami orisinalitas sebuah ajaran. Namun radikal juga bisa bermakna positif, sama seperti ketika David Cameron diangkat menjadi Perdana Menteri Inggris dan berpidato menyatakan dirinya kembali ke akar (radikal) bermakna rakyat. Lanjutnya, radikalisme bisa positif atau negatif tergantung situasi politik dan sosial kemasyarakatan dan pihak yang memaknainya.

Radikalisme menjadi negatif karena ekstremis bersifat dogmatis simplistik, atau emosional reaksioner. Bentuk lainnya ialah revolusi yang bermakna perubahan yang sangat cepat dan drastis. Sedang menurut Dr. Muslim Mufti M.Si. pakar Ilmu Politik UIN SGD Bandung, radikalisme berkaitan dengan perilaku dan kecenderungan dari apa yang dianutnya.

Tidak hanya agama, tapi doktrin-doktrin ideologi yang berkembang di dunia ini mempunyai potensi memunculkan radikalisme dari ideologi yang dianutnya. Munculnya anggapan bahwa ada kelompok radikal di umat Islam, "saya simpulkan terminologi radikalisme lebih bermuatan politis.

Radikalisme tak selalu berujung terorisme sebagaimana dituduhkan negara-negara Barat itu." tegas Muslim. Ia menambahkan, bahwa semua ajaran dan isme di dunia bersifat fundamental hingga tak bisa diarahkan hanya pada ajaran Islam. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW GPII) Jawa Barat Irwan Sholeh Amir mengatakan, "kita jangan masuk pada jebakan terminologi, seolah-olah kita menerima begitu saja bahwa ajaran Islam itu radikal.

Dan kadang upaya deradikalisasi itu menjadi de-Islamisasi, yang mereduksi ajaran Islam, hingga menolak syariat Islam seperti menolak poligami atau menolak hukum waris." Gerakan deradikalisasi mesti dikembalikan pada relnya, yang menampilkan Islam yang toleran namun tetap tidak kehilangan prinsip-prinsip Islam yang tetap harus dipegang kuat, tandasnya. (**)


Share Me
Kirim Komentar Anda
Komentar Anda