hari ini :

System Zonasi yang Melukai Perasaan

Sabtu, 06-07-2019 17:28 WIB
System Zonasi yang Melukai Perasaan

JABARNEWS.ID: PPDB tahun ini diseluruh Indonesia, terkhusus di kota Bandung mengacu pada Permendikbud Nomor 51 tahun 2018, yaitu dengan tetap menggunakan sistem zonasi. System ini menurut Mendikbud, diambil sebagai respons atas terjadinya kasta dalam sistem pendidikan yang selama ini ada karena dilakukannya seleksi kualitas calon peserta didik dalam penerimaan peserta didik baru.

Jangan lupa ada beberapa aturan main yang harus di perhatikan mengenai system zonasi ini yang tertera dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, yaitu:

  1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
  2. Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan padaalamat pada kartu keluarga (KK) yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.
  3. Radius zona terdekat dalam sistem zonasi ditetapkan oleh pemda sesuai dengan kondisi di daerah tersebut dengan memperhatikan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut; dan jumlah ketersediaan daya tampung sekolah.
  4. Penetapan radius zona pada sistem zonasi ditentukan oleh pemda dengan melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala sekolah. Baca juga: Pendaftaran PPDB Online Segera Dibuka Ini Peraturannya
  5. Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase penerimaan siswa dan radius zona terdekat dapat ditetapkan melalui kesepakatan tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.
  6. Calon siswa di luar zonasi dapat diterima melalui beberapa cara yakni:
  1. Melalui jalur prestasi dengan kuota paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
  2. Alasan perpindahan domisili orangtua/wali atau alasan terjadi bencana alam/sosial dengan paling banyak 5% (lima persen) dari total keseluruhan siswa yang diterima.
  1. Sistem zonasi menjadi prioritas utama atau terpenting dalam PPDB jenjang SMP dan SMA. Setelah seleksi zonasi baru kemudian dipertimbangkan hasil seleksi ujian tingkat SD atau hasil ujian nasional SMP untuk tingkat SMA.
  2. Untuk jenjang SD, sistem zonasi menjadi pertimbangan seleksi tahap kedua setelah faktor minimum usia masuk sekolah sudah terpenuhi. Sedangkan bagi SMK sama sekali tidak terikat mengikuti sistem zonasi
    Alur berpikir seperti yang diungkapkan Mendikbud ini memang baik. Namun akan lebih baik jika system zonasi ini berlaku manakala juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 

Itulah beberapa aturan yang kelihatanya Nampak ideal. Namun bia ditengok dari kenyataan dilapangan, aturan itu banyak yang dilabrak sebingga banyak orang tua siswa yang mereasa terlukai saat mendaftarkan anak siswanya.

 

Terutama bagi orang tua yang saat mendaftar, dia menggunakan jalur normative. Sedangkan disisi lain ada juga oknum orang tua yang saat mendaftar melakukan “praktek-praktek kecurangan” dengan merubah Kartu Keluarga (KK). Bahkan ada beberapa gedung lembaga yang dijadikan alamat KK. Inilah yang disebut praktek kecurangan itu.

 

Hal ini diungkapkan orang tua siswa, berinisial LH yang juga mendaftrkan anaknya ke SMA 3 dan SMA 5 kota Bandung. Nilai UN anaknya cukup memuaskan 38 koma. Namun pas daftar, ibu LH ini melhat praktek kejanggalan-kejanggalan. Akhirnya, anaknyapun terpental. Padahal di sekolah itu adalah impian anak saya, katanya.  

 

Saat ditanya tentang system zonasi, dia mengatakan, kalau ini sudah aturan, saya setuju aja tapi jangan sampai ada praktek kecurangan yang dilakukan beberapa oknum orang tua. Tolong ditindak semua yang terlibat dalam praktek kotor itu, katanya.

 

Selain itu, ungkp ibu 3 anak ini, supaya tidak melukai perasaan ortu siswa,  pemerintah diharapkan menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang layak juga diseluruh zona kota. Jangan sampai sekolah-sekolah bagus itu hanya ada di zona-zona tertentu, tambahnya

Penulis : Redaksi

Editor: Hakim Nur


Share Me
Kirim Komentar Anda
Komentar Anda