Syekh Ali Jaber Diserang, Dewan Dakwah Jabar: Kita Masuk Fase Dakwah Berdarah

Senin, 14-09-2020 22:04 WIB    323 VIEWS
Syekh Ali Jaber Diserang, Dewan Dakwah Jabar: Kita Masuk Fase Dakwah Berdarah

JABARNEWS.ID: Syekh Ali Jaber ditusuk oleh seseorang saat mengisi tabligh akbar di Bandar Lampung, Ahad sore (13/9/2020). Atas kejadian ini Syekh Ali Jaber mengalami luka tusukan cukup parah di bagian lengan kanannya.

Menanggapi hal ini Ketua Harian Dewan Dakwah Jabar Ustadz Roinul Balad melihat bahwa saat ini khususnya di Indonesia marwah atau kemuliaan ulama sedang diacak-acak dan direndahkan oleh musuh-musuh Islam.

“Ini bukan kejadian pertama, setidaknya dalam catatan kita ada kejadian yang lebih parah yakni di Cicalengka Bandung dimana korban luka parah dan yang lebih tragis adalah korban almarhum ustadz Prawoto yang hingga meninggal dunia,” ungkapnya di Kantor Dewan Dakwah Jabar, Senin (14/9/2020).

Ia pun mempertanyakan dengan tidak jelasnya apa motif yang sesungguhnya yang melatarbelakangi tindakan pelaku.
 

“ Apakah sudah demikian bencinya kepada ulama penyampai dakwah?,”tanyanya.

Menurutnya orang kafir akan menggunakan tangan siapa saja untuk memusuhi kaum muslimin dimanapun berada.

“Apa yang dialami oleh syekh Ali Jaber ini adalah salah satu bentuk konsekuensi terhadap para penyeru dakwah yang akan pada fasenya yakni fase dakwah berdarah,”sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa fase dakwah berdarah adalah dimana permusuhan dan kebencian kaum kafir termasuk kaum munafik kepada penyeru dakwah khususnya ulama bukan lagi dilakukan dengan teror mental atau psikis melain sudah menyerang secara fisik dengan menumpahkan darah.

“Saat ini di Indonesia sedang terjadi fase tersebut dimana kaum muslimin dituntut untuk menunjukkan sikap toleransi yang tinggi kepada semua orang termasuk kaum kafir, namun disisi lain dengan terencana mereka menyerang, bukan hanya dengan lisan dan tulisan melainkan sudah dengan fisik dan senjata,”jelasnya.

Untuk itu dirinya mengajak kaum muslimin perlu menyiapkan diri dengan segala kondisi saat ini baik secara individu maupun berjamaah. Ia pun mengajak bahwa semua kaum muslimin harus menjadi tameng-tameng ulama dan tameng-tameng Islam.

“Jangankan ulamanya, habaibnya, ustadznya, pimpinan umatnya, sekali pun ‘hanya’ umat atau jamaahnya, satu tetes darahnya keluar tanpa hak maka kita akan meminta pertanggungjawaban di dunia maupun di akhirat,” tegasnya.

Dirinya pun meminta aparat penegak hukum khususnya jajaran kepolisian untuk serius menangani kasus tersebut secara professional dan transparan.

Sementara itu menanggapi pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi dimana ungkapan dan pernyataan seorang menteri yang tidak menyejukkan dan bikin gaduh maka sebaiknya Menteri Agama diganti dengan orang yang paham ajaran Islam.

"Menteri Agama diganti itu lebih baik dari pada bikin gaduh dan menimbulkan polemik terus,"ujarnya.

Sementara siapa pun gantinya tidak menjadi masalah asalkan ia paham agama.

"Untuk meredam kegaduhan lebih baik ganti Menteri Agama,"tegasnya. [ ]